Welcome...

"..disanalah sebuah asa dan rasa tersimpan..disana pulalah kelembutan itu ada...dan disana jualah dimana Tuhanmu menghembuskan bisikan kebenaran.. kau semestinya tahu, bahwa dia adalah hatimu..."

Jumat, 01 Februari 2013

Terkenang oleh sebuah kisah


Kisah tentang seorang anak muda yang menghadapi masanya dalam kesendirian
Kisah tentang seorang anak muda yang tumbuh dengan segenap asa yang tak direstui
Kisah tentang seorang anak muda yang mempunyai semangat dalam keterbatasan,

Mungkin memang takdirnya,
Namun lika-liku itu justru menguatkan pribadinya menjadi sosok yang kokoh
Penderitaannya adalah tidak sebatas cerita maupun dongeng sebelum tidur,
Namun ceritanya adalah seperti sosok yang selalu hidup dalam beribu kenyataan di kehidupan ini..


Aku menemukannya dalam sebuah tutur yang tak fasih
Aku menemukannya dalam sebuah pandangan yang kabur
Dan aku menemukannya dalam jejak yang samar, dalam langkah yang tertatih..
Namun nyatanya, ketidak fasihan itu lebih jelas dari kefasihanku,
Kekaburan itu lebih nyata dari pandanganku
Jejak itu lebih menunjuk dari apa yang selama ini aku lihat
Dan nyatanya, langkahku lebih gontai dalam ketidakberdayaannya


Mungkin ini tentang kau,
Yang pernah mengais asa seorang diri, tanpa ada orang yang peduli,
Atau mungkin ini tentang orang lain yang kau temukan berada dalam tatapan naif
Dan mungkin tentangnya dengan sepasang pandangan yang masih basah oleh air mata,


Siapapun dia, aku kini hanya ingin berujar bahwa
Kesemestian hidup ini adalah tentang perjuangan dan kerelaan
Kerelaan untuk berjuang melawan ego pribadi, berjuang melawan kenyataan, dan berjuang menentukan pilihan, dan bertanggung jawab atasnya
Jika kau rasa itu baik, maka sebenarnya kau tak perlu takut...
kebaikan bagimu dan bagi orang-orang yang kau sayangi


Kesemetian hidup ini adalah bukan saja untuk berdiam diri
Kau harus bergerak dan tetap terus bergerak,
meskipun suatu ketika diammu sejenak adalah sebuah keharusan
diamlah sejenak untuk merenungi segala yang telah terlewati,
diamlah sejenak untuk menyiapkan kekuatan demi menata diri,
dan diamlah untuk sejenak keluar dari diri sendiri, melihat apakah yang telah kita lakukan adalah benar-benar sikap yang paling baik
dan melihat orang-orang yang kau lalui, yang nyatanya telah -tanpa disengaja- menempa pribadimu menjadi sosok yang kuat, tak peduli sikap mereka baik atau tidak..
maka kau perlu berucap ‘terima kasih’  pada mereka yang telah berjasa
dan kaupun harus meminta ‘maaf’ atas hati yang meski tanpa sengaja kau buat sakit, dan kau pun menyadari dalam diammu yang sejenak itu.


Wahai.., mungkin ada saat dimana kau tak kuasa membendung air matamu
Menyaksikan bahwa kenyataan begitu menyakitkan,
Menyaksikan bahwa sayatan sembilu dalam hatimu itu justru datang dari orang-orang yang kau sayangi,
Menyaksikan berbagai hal yang tak kau sepakati, dan terlalu jauh dari harapanmu,

Tapi, tak apa....

Relakan apa yang ada.... relakan apa yang terjadi...

Dan ikhlaskan dengan sepenuh hati, karna kau masih tetap bergerak di atas semua itu
Untaikan sebuah senyum ketulusan yang dari hati..

Dan lihatlah, air matamu waktu itu nyatanya menjadikanmu kini lebih tegar menghadapi hidup..
Suatu ketika, kaupun akan benar-benar tersenyum menyadari betapa waktu yang tak mampu kau lupakan itu menjadi sebuah hal yang berharga...
Karna sesuatu yang berharga itu tidak selalu datang dengan senyuman, melainkan air mata
Sesuatu yang berharga itu tidak selalu datang dengan jalan yang lurus, melainkan jalan yang berliku
Sesuatu yang berharga itu tidak selalu datang dengan ‘keutuhan’, melainkan ‘ketidaksempurnaan’

Tak apa, karna kita tidak hidup di dunia ini ‘seorang diri’.


 


“Thanks God, to have many people brought in to my life, they inspire me much..”
~this note is dedicated for them~


 

Selasa, 08 Januari 2013

Tuhan, aku sedang belajar. .


Tuhan, aku sedang belajar...
Apa memang benar Tuhan, Kau sedang membuka kelas khusus untukku?
Jika iya, maka aku ingin belajar,..

Aku ingin belajar saat ini dari angin yang Kau sampaikan padaku, berhembus lembut tak pernah tampak, tak tersentuh, namun kesegaran yang dibawanya tak terbantahkan, membalutkan kesejukan..

Aku ingin belajar dari burung yang Kau terbangkan di atas pekarangan ini, begitu lincah, begitu merdu kicaunya, meski aku sama sekali tak mengerti celotehnya..berkicau menanda ataupun tidak, tapi tetaplah indah..
Dan akupun belajar dari segerombolan burung-burung yang ketika senja beranjak pulang kembali ke sarangnya, begitu rukun... dan pada segerombolan burung yang terbang membentuk formasi 'V', bukanlah ketidaksengajaan, tapi bentuk itu menyimbolkan kekuatan, kepatuhan, saling menjaga, menopang kekuatan dan melawan bahaya bersama...kokoh..

Aku ingin belajar dari awan di langit sana, yang menampung ikhlas bermilyar-milyar liter air dan menumpahkannya secara perlahan..teratur..dan bumipun basah olehnya..

Aku ingin belajar dari batu karang yang kau perlihatkan di laut-Mu, dia kokoh dan tegar meski selalu dihempas ombak..menjadi pelindung bagi hewan-hewan laut yang kecil, plankton..ikan..dan merasa aman bersamanya..

Aku ingin belajar dari rumput yang menghiasi taman, hanyalah rumput yang selalu diinjak, namun tidak pernah mati hanya karena selalu diinjak..


Aku ingin belajar dari bebatuan hitam di bawah air terjun itu, yang padanya kekuatan besar namun tetap akan cekung jika terus saja ditimpa tetesan air..batu sekeras itu luluh hanya karena [cinta] sang air..

Aku ingin belajar dari bulan, yang begitu indah Kau tampakkan di atas sana... dia tak pernah memiliki cahaya namun dia rela menjadi pantulannya, ikhlas menerima dan ikhlas memberi...

Aku ingin belajar dari dedaunan, yang menopang nafas pada tumbuhan, namun luruh kapanpun ia rela...dan daun tak pernah sekalipun membenci angin..yang tlah membuatnya jatuh dan luruh pada bumi..

Aku ingin belajar dari kupu-kupu yang selalu cantik itu, tumbuh cantik setelah menjalani tempaan yang berat, setelah melalui proses hinaan dikala ia masih menjadi ulat..

Aku ingin belajar dari lebah yang mengambil sari bunga namun dia ikut membantu penyerbukan, dia pun menghasilkan madu dari sarangnya, untuk dia sendiri? Bukan. untuk manusia. Dan dia hanya menggunakan kekuatannya ketika merasa terganggu..
Lihatlah, mereka sungguh memberi kemanfaatan yang banyak..


Dan terlebih, aku ingin belajar dari semut, yang tak pernah lupa bagaimana caranya peduli pada sesama, 
selalu berjabat tangan ketika bertemu, 
dan mengabarkan dari tempat kejauhan jika mendapat serpihan makanan, 
dia selalu menyayangi, tak peduli seberapa jauh jarak yang harus ia tempuh demi memanggil teman-temannya dan mengajak mereka ke arah sumber makanan itu.. 
Aku pun masih ingin belajar dari semut, 
yang beriringan membentuk suatu jalur ketika mereka berpindah ke tempat yang baru, 
beriringan..tak terpisahkan..dan mereka selalu mempunyai kesabaran yang utuh...
Mereka bersabar dalam kebersamaan..
Mereka bersabar dalam meniti langkah..
Mereka bersabar menyatukan satu tujuan...
[bukankah mereka tak pernah egois?]
Dan mereka bersabar dalam menghadapi rintangan..

Jika saja tiba-tiba ada air yang menghalangi jalan mereka, maka mereka menggenggam erat, saling berpegangan tangan menjadikan diri sebagai jembatan untuk melalui genangan air itu..
Dan dimanapun mereka ada, bahaya yang mengancam hidup mereka pun nyata adanya...
Tapi mereka tetap kokoh dan percaya diri,
Menjadi makhluk kecil namun semangat perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa..
Ya Tuhan, mereka hanyalah semut, tak punya akal, tapi tingkah laku mereka sangat bijaksana...

Akupun ingin bermetamorfosis layaknya kupu-kupu yang sesungguhnya dia selalu indah, bahkan ketika menjadi seekor ulat..
Ia indah karena ketegarannya...
Ia indah karena tempaan yang begitu banyak dalam hidupnya..

Maka aku ingin belajar, Tuhan
Belajar dari kehidupan yang sungguh luas ini...

Belajar bagaimana cara melangkah dengan benar, agar aku tak terjatuh, agar aku tak lupa arah..
Semestinya aku tahu, bukan jalan yang patut disalahkan ‘mengapa ia licin?’, ‘mengapa ia penuh bebatuan?’ tapi aku sendirilah yang harus sesekali menyeka kakiku dan menyiapkannya agar selalu kuat untuk menapaki jalan dalam bentuk apapun..

Tuhan...aku kini sedang belajar, 
Ajarkanlah... segala hal yang memang tak bisa kumengerti sebelumnya...
Ajarkanlah aku bahkan jika aku harus menelan sepi dan tangis,
maka jadikan sepi dan air mata itu juga sebagai penaku,
yang tentu telah Kau pertajam sebelumnya

Ajarilah aku untuk mengenali seperti apa penghapusku,
Penggarisku,
dan kertas untukku belajar..

Aku ingin belajar, Tuhan, dan aku sadar aku sedang belajar..

Pada sebuah bangku dengan berbagai macam bentuk,
Pada sebuah kursi, atau bahkan tikar,
pada sebuah dinding atau papan untukku bersandar...

Semestinya dari dulu aku sadar keberadaan ‘sekolah’ ini, Tuhan...

Agar aku tak menyesal telah tertawa begitu keras,
telah menangis begitu hebat,
telah kecewa begitu besar,
telah kebingungan begitu lama,
bahkan aku tak seharusnya menyesal atas kebahagiaan yang diikuti dengan kesedihan, karna semuanya berputar...

Aku semestinya tahu bahwa inilah ‘sekolahku’..

pada sejumput asa yang pernah tertinggal, 
pada sebuah mimpi yang teramat samar, 
pada setitik rasa yang berpendar, 
dan pada sebongkah kepasrahan yang mengalun..



maka itukah ‘pelajaran-Mu’ hari ini, Tuhan?


(08/01/13)
~feeling like a fool~

Rabu, 02 Januari 2013

Here is Our Community, ~ PapRcrap’z Community ~


Here is Our Community, ~ PapRcrapz Community ~

PapRcrapz adalah sebuah komunitas anak muda yang berkreasi dalam dunia seni kerajinan kertas di Yogyakarta. 
Berawal dari sebuah hobi (sekaligus sempat menjadi tugas kuliah), komunitas ini hadir dengan berbagai hasil kreasinya.
Beragam bentuk tokoh fiksi hingga bangunan bersejarah menjadi bentuk-bentuk miniatur kertas yang menarik ditangani komunitas ini. 
Berbekal keuletan dan kreativitas, hasil karya anak-anak muda ini berhasil menembus beragam event pameran di Yogyakarta. PapRcrapz ini adalah penamaan ulang dari istilah Papercraft, yaitu sejenis keahlian dengan bahan dasar kertas, maka muncullah kemudian bentuk-bantuk mainan yang terbuat dari kertas, sebut saja Papertoys. Papertoys sendiri adalah suatu kerajinan ketrampilan kertas yang berasal dari Jepang, yaitu ketrampilan dalam membuat suatu bentuk atau boneka dari kertas berupa template. Dalam prosesnya, template itu digunting, dilipat, dan disatukan dengan lem. Kehadiran papertoys sendiri menjadi bagian penting dalam perkembangan desain tiga dimensi, karena dalam merancang suatu papertoys sendiri memiliki unsur visual diantaranya: titik, garis bidang, warna, serta tekstur.
*Sedikit mengutip dari  majalah Magic Fingers Zine” yang sempat mempublish PapRcrapz dalam kolomnya di halaman 8.


Yup, itulah sekilas tentang PapRcrapz. Tak banyak ternyata yang bisa aku ceritakan tentang komunitas ini, ya..apalagi tentang PapRcrapz, tidak tepat sepertinya kalau yang bercerita adalah aku. Karna memang aku bukan termasuk dalam bagian anak muda yang berkreasi dalam dunia seni kerajinan kertas” seperti yang dijelaskan di atas, oh jelas bukan [hehe]. Uraian di atas hanya sekedar untuk mengenalkan pembaca sebelumnya tentang apa itu PapRcrapz. So, saat ini sebenarnya aku hanya akan bercerita tentang kami. Sekumpulan kami yang tergabung dan merenda memory belakangan ini. #cesss....tiba-tiba jadi dingin.. karna hujan-
Kami memang tergabung dalam komunitas ini PapRcrapz, sekumpulan orang yang pada saat ini- berlatar belakang yang berbeda. Karna sebelum saat ini, PapRcrapz lebih banyak terjun dalam event pameran maupun workshop, dan otomatis hanya terdiri dari para ahli pembuat desain PapRcrapz. Maka, inilah kami saat ini yang agak sedikit berbeda [hehe]. Hmmm...sebenarnya pengen banget nyeritain tentang perjalanan kami dari mulai perkenalan de-el-el, tapi khawatir nanti tulisan ini malah jadi novel, yang justru males untuk dibaca sekali duduk..^^.. *senyum yang sok manis*.

Well, jujur, banyak hal memang yang kami pelajari melalui komunitas ini. Tidak hanya sekedar bermain kertas, berurusan dengan gunting, ataupun membicarakan tokoh-tokoh kartun yang akan dijadikan model. Tidak hanya itu. tapi terlebih tentang sebuah mimpi kami yang menyatu. . #cesss lagi..-ketetesan air hujan-. Berawal dari tahun 2010, ketika Yogyakarta tertimpa musibah meletusnya merapi, aku yang mulai menjadi kami, mengadakan Trauma Healing” untuk anak-anak korban Merapi. Kami membuat suatu event kecil-kecilan dengan mengajak mereka bermain kertas: menggunting, melipat, dan mengelem. Dan tentunya kami telah menyiapkan pola templatenya. Sederhana bukan? tapi ternyata event itu membuat kami mengerti khususnya aku sendiri- bahwa hanya dengan kegiatan yang sederhana, dan niat yang sederhana pula untuk bermain bersama, tapi membuat mereka anak-anak itu- dan kami merasa bahagia...[bacanya pake sense: agak melow]. Lalu kami melanjutkan event yang sama di beberapa posko bencana ketika itu. sederhana, tapi mengena di hati kami... #masih melow.

Seseorang dari kami menularkan mimpinya, menjadikan bulir-bulir tetesan energi positif untuk kami #ceesss......]. Menjadikan kami bersemangat untuk membuat mimpi itu menjadi sesuatu yang nyata dilihat, dirasakan.. dan itu juga yang menjadi kebahagiaan kami berbekal dengan pengalaman kami masing-masing. Ya disinilah kami menyatu melalui komunitas ini.

Berbagi kebahagiaan dengan sederhana, dengan modal seadanya, namun dengan niat yang besar. Meskipun tak pernah terkatakan, tapi aku melihat bahwa diri kami pada akhirnya mempunyai mimpi yang sama, menggerakkan diri untuk dapat mengukir seulas senyum tipis pada mereka, anak-anak yang luar biasa. Dan tentunya seseorang dari kamilah yang mulanya mengajak kami untuk melihat mereka lebih dekat. Anak-anak korban gempa, anak-anak yatim, piatu, anak-anak dhuafa, dan anak-anak jalanan. Merekalah yang kami anggap sebagai anak-anak yang luar biasa. Keberadaan mereka adalah pembawa inspirasi bagi kami, dan keberadaan mereka adalah pembuka mata kami untuk bisa melihat dunia ini senyatanya. Ya, mereka sungguh luar biasa. Percayalah.......! Melihat mereka adalah melihat dunia ini dengan warna pelangi... melihat mereka adalah melihat diri kami seutuhnya yang tidak hanya milik kami semata. 

Hwuuhf.....mesti harus menarik nafas yang panjang meski hanya sekedar menulis catatan ini. aku pribadi, sangat yakin, ada banyak hal dan banyak tempat untuk bisa menjadi kelas pembelajaran untuk diri kita masing-masing. Dan inilah salah satu tempat yang kami maksud J..

Ya, sampai saat ini kami telah beberapa kali berkunjung ke sejumlah panti untuk mengajak mereka bermain dan berbagi kebahagiaan bersama. Namun tidak juga sesederhana itu, kami ingin mengajak mereka membuka mata untuk bisa memaknai sesuatu yang sederhana menjadi istimewa, mengajak mereka menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Mungkin inilah yang dinamakan menularkan inspirasi, ya kami ingin mereka memiliki semangat yang lebih setelah mengikuti kegiatan kami. Sejumlah panti tersebut diantaranya: Panti Asuhan Atap Langit, Panti Asuhan Yatim Putra Islam, Pondok Yatim Piatu Islam Imam Syafii, Panti Asuhan Nurul Yasmin, dan Panti Asuhan Putri Aisyiyah. Dan semoga kegiatan ini terus berlangsung secara berkesinambungan. Amien...[emosicon: nadahin tangan doa khusyu]

Boleh ya kami ceritain dikit sekilas kegiatan kami? #agak maksa. Ini cuplikan kegiatan kami:

*kunjungan dari Radio Swaragama di bengkel PapRcrapz*


*PapRcrapz  di Panti Asuhan Nurul Yasmin*


*PapRcrapz  di Panti Asuhan Yatim Putra Islam*


Cozstreet (Kostum Jalanan)



*Cozstreet PapRcrapz  di nol kilometer, pada 29/12/12, dalam rangka penggalangan dana Satu Hati untuk Anak Panti

Kami sadar, yang kami lakukan hanya sekedarnya. Banyak hal yang belum kami lakukan  untuk mereka, namun semoga niat kami yang sederhana ini bisa mengantarkan kami untuk bisa melapangkan tangan kami lebih lebar dari sekedar ini, tenaga yang lebih besar dari ini, dan mata yang dapat memandang lebih jauh dari ini. Besar harapan kami, atas dukungan kalian baik materi maupun non-materi. Semua ini kami dedikasikan untuk mereka. . melalui komunitas ini. PapRcrapz Community. J

a/n: Ajix, Irwan, Divi, Asni, dan semua kawan yang membantu. Dan "kami" adalah jua bermakna "kalian" :-) 

Yogyakarta, 2 Januari 2012
back sound : Mungkinkah kita kan selalu bersama.......” [by: Stinky]

Senin, 29 Oktober 2012

About LOVE (Part 2)


Kisah..
(It’s all about Love, Patience, and Sincerity)

Rumahku adalah surgaku. Barangkali semboyan inilah yang sering dipakai untuk menggambarkan kehidupan berkeeluarga yang tentram dan harmonis. Tetapi, apakah memang selalu benar dan nyata adanya bahwa semua keluarga selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang? Ya, pada dasarnya sebuah keluarga memang dibangun atas dasar cinta. Seorang laki-laki menikahi seorang perempuan untuk dijadikan istrinya juga atas dasar cinta.
Sebuah ikrar janji suci pada saat ijab kabul sebetulnya menjadi satu janji yang paling fundamental untuk seumur hidup yang semestinya dipegang kuat-kuat dan menjadi bukti nyata bahwa mereka disatukan atas dasar niat yang suci, cinta yang suci, yang dianugrahkan oleh Tuhan, dan menjadi pengingat akan doa mereka ketika itu agar bisa menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Pengingat disaat masalah-masalah kecil mulai bermunculan, saat keduanya sama-sama mulai mengerti apa sesungguhnya makna dari “menerima apa adanya” ketika menyadari bahwa pasangannya mempunyai kekurangan yang tidak diketahui sebelumnya. Kenyataan tersebut yang kemudian sering dibahasakan dengan ungkapan, “Kau telah banyak berubah!” atau “Kau tidak seperti dulu ketika kita belum menikah!”.
Doa pernikahan tersebut semestinya menjadi janji dan pengingat bahwa sebenarnya untuk mewujud menjadi sebuah kelurga yang -sakinah mawaddah wa rahmah- dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah, dibutuhkan pengertian yang tidak sederhana, dibutuhkan pemahaman yang tidak sepele, tapi sekali lagi itu butuh perjuangan yang berat dan sangat berat.
Berikut ada sebuah cerita,
Konon, ada sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang suami istri yang baru menikah dan ibu dari suami tersebut. Mereka hanya tinggal bertiga. Dan entah mengapa sang mertua sangat tidak suka pada menantunya, meskipun menantunya merasa tidak ada yang janggal dengan dirinya, tapi ibu mertua tetap bersikap memperlihatkan ketidak sukaannya. Ibu mertua selalu menyindir menantunya dengan ungkapan yang menyakitkan hati menantunya. Diapun sering menceritakan hal-hal sepele mengenai kekurangan sang menantu pada tetangga-tetangganya. Walhasil banyak tetangga  yang tahu dan akhirnya menyimpulkan bahwa hubungan mereka benar-benar tidak harmonis, banyak anggapan-anggapan miring dari banyak orang mengenai sang menantu yang membuatnya sedih dan merasa sakit hati.
Sang menantu sudah seringkali menceritakan hal itu pada suaminya, akan tetapi suaminya juga tidak bisa berbuat banyak, mengingat sang ibu memang memiliki watak yang keras dan tempramental. Suaminya hanya bisa menyarankan agar istrinya sabar menghadapi ibunya. Namun, kondisi tersebut tak jua selesai.  Ibu mertua tetap dengan sikapnya membenci menantunya. Sang menantupun sepertinya sudah tidak bisa lagi menahan kesabarannya atas perlakuan ibu mertuanya tersebut. Dia menjadi begitu membenci ibu mertuanya. Dia sudah tidak bisa diam atas semua perlakuan itu. Dia begitu dendam pada ibu mertuanya tersebut sampai-sampai berniat ingin menghabisi nyawa ibu mertuanya. Karna dia berpikir itulah cara satu-satunya agar berakhir deritanya. Akhirnya diam-diam, dia memutuskan untuk pergi pada seorang peramu obat untuk ‘menyelesaikan masalahnya’.
Diapun mengutarakan semuanya pada peramu obat tersebut. Dia menginginkan ramuan racun yang dapat mematikan ibu mertuanya sehingga ia terlepas dari nestapa yang selama ini mengurungnya. Peramu obat itupun mengerti, dan dia bertanya padanya “apakah kau yakin dengan ini masalahmu bisa selesai? Apakah kau yakin aku dapat membantumu?”. Sang menantu itupun menjawab, “Ya,  aku sangat yakin hanya ini yang dapat menyelesaikan masalahku, dan jelas dalam hal ini kau membantuku menyelesaikan masalahku. Maka aku akan sangat berterima kasih padamu. Berapapun kamu minta imbalan, akan aku berikan.”. Peramu obat itu mengangguk dan dia meminta waktu untuk membuatkan racikannya.
Beberapa saat kemudian peramu obat itu keluar memberikannya sebotol kecil ramuan yang terbungkus plastik hitam. Dia menjelaskan caranya agar nantinya niat tersebut tidak mencurigakan semua orang sehingga sang menantu bebas dari tuduhan apapun jika terjadi apa-apa dengan ibu mertuanya. Diapun mengangguk senang dan puas akan  menjalankan rencananya tersebut.
Dia mengingat betul saran-saran yang diberikan peramu obat tersebut. Obat itu hanya akan berfungsi setelah dikonsumsi rutin selama enam bulan. Sehingga dia harus memastikan ibu mertuanya mengkonsumsinya setiap hari. Peramu itupun  menyarankan agar selama itu, dia harus bersikap baik pada ibu mertuanya agar nantinya dia tidak dicurigai jika terjadi sesuatu dengannya. Karena orang-orang pasti akan menuduhnya atas dasar permusuhan antara anak dan ibu mertua tersebut. Dan satu lagi, apapun perlakuan ibu mertuanya, dia harus membalasnya dengan sikap terbaik dan harus selalu tersenyum ketika berhadapan dengan ibu mertuanya. Sang menantu mengiyakan dan dia sangat senang membayangkan hasilnya.
  Keesokan harinya, dia mulai menjalankan misinya, sesuai aturan dari sang peramu obat. Pagi-pagi dia memasak makanan kesukaan ibu mertuanya dan menghidangkannya seporsi bersama minumannya, dan tidak lupa dia telah menaburkan ramuan obat tersebut. Begitupun seterusnya, sang menantulah yang selalu menghidangkan makanan untuk ibu mertuanya setiap hari dan setiap waktu makan. Dan setiap kali dia dimaki-maki, sang menantu hanya diam atau justru membalas dengan kata-kata yang baik. Diapun selalu menuruti apa yang diperintahkan oleh ibu mertuanya. Dia mencoba berpura-pura menjadi baik dan dia sangat berhati-hati bersikap pada ibu mertuanya. Hal itu berlangsung setiap hari terus-menerus bahkan sampai ia terbiasa melakukannya dengan sangat baik.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan, dan hampir enam bulan telah berlalu, obat itu telah dikonsumsi rutin oleh ibu mertuanya, namun ada hal yang menggetarkan batinnya ketika menyadari bahwa sang ibu mertua telah berubah drastis dalam menyikapinya. Ia menjadi baik bahkan sangat baik, dan selalu menyanjung-nyanjung menantunya di depan semua orang. Terkadang ibu mertuanya sampai membelikannya baju baru, dan ia berkata pada semua orang bahwa ia sekarang sangat menyayangi manantunya. Ia menjadi cemas luar biasa mengingat pada genap enam bulan, ibu mertunya akan mati. Maka iapun bergegas ke peramu obat itu, berniat untuk membatalkan semua rencananya tersebut.
Ia menceritakan semua perlakuan ibu mertuanya saat ini dengan menangis tersedu-sedu pada sang peramu obat, berharap ia dapat membatalkan niatnya dan meminta ramuan penawarnya. “Ketahuilah, obat itu tidak ada penawarnya,” jelas peramu obat. Sang menantu semakin menangis kencang dan menyesali kenapa ia tega berbuat keji pada ibu mertunya karna ia sekarang merasa begitu menyayangi ibu mertuanya. Sang peramu obat pun tersenyum melanjutkan kata-katanya,
“Kau tak perlu cemas. Dan kau tak perlu meminta penawarnya. Aku kini akan menjelaskan yang sebenarnya. Obat yang kau berikan pada ibu mertuamu itu sesungguhnya bukanlah racun, melainkan obat itu adalah suplemen vitamin. Sehingga tidak akan terjadi hal yang membahayakan bagi ibu mertuamu. Aku senang ternyata masalahmu kini telah terpecahkan.”
Bukan main senangnya hati sang menantu mendengar itu, bergegas ia pulang dan seketika sampai di rumah ia langsung menghambur memeluk ibu mertunya, menciumi tangannya dan berujar meminta maaf atas segala hal buruk yang mungkin mengesalkan ibu mertuanya selama ini. Ibu mertuanya pun ikut menangis dan meminta maaf juga pada menantunya atas semua sikap buruknya. Maka pada akhirnya, mereka pun saling menyayangi.*
(* cerita ini didapatkan penulis dari sebuah sumber yang dikemas dengan redaksi penulis sendiri)

Begitulah, terkadang keburukan yang menimpa kita tidak semata karena takdir. Sehingga kita tak bisa pasrah atas keadaan tidak nyaman yang mendera kita. Perlu adanya usaha untuk merubah kondisi menjadi lebih baik dan menjadi seperti apa yang kita inginkan. Dalam kisah ini, ketidak sukaan seseorang akan seseorang terkadang terlihat tanpa sebab, namun terkadang juga karena beberapa sebab yang tidak disadari. Jika ada yang membenci kita, maka janganlah kita hanya tinggal diam, apalagi jika orang yang bersangkutan merupakan bagian yang penting dalam hidup kita, yang setiap waktu dan mau tak mau kita selalu berurusan dengannya.
Meskipun demikian, atas sebab apapun sebenarnya tak harus kita telisik lebih jauh, namun yang harus kita lakukan adalah menghadapinya dan menyelesaikannya. Dan jawabannya adalah dengan kebaikan yang terus menerus dan kesabaran yang tak mengenal batas. Ya, karena memang pada dasarnya kesabaran itu tak pernah ada batasnya. Manusialah yang seringkali membatasi sendiri kesabaran itu dengan mengatakan ungkapan, “kesabaran ada batasnya dan kini kesabaranku sudah habis!”. Maka jika ada yang mengatakan seperti itu berarti memang dia tak bisa bersabar lagi. Dengan demikian, Inti dari cerita tersebut adalah pentingnya menyelesaikan masalah dengan kesabaran, yaitu kesabaran yang tidak pasif tapi aktif. Kesabaran yang ditumbuhkan dalam mencintai seseorang, meraih cinta seseorang, dan mencintai dengan ketulusan.
‘Selamat mencintai untuk dicinta, dan tersenyumlah, maka dunia akan tersenyum juga padamu.’


(Oktober, 2012)